Ia duduk di kursi ruang kerjanya, menatap layar laptop dengan mata sedikit berkaca-kaca. Di layar itu terbuka email yang sudah dinanti hampir dua tahun: "We are pleased to inform you that your manuscript has been accepted for publication." Seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta, sebut saja Pak Rudi, akhirnya menembus jurnal internasional bereputasi setelah puluhan kali reject. Saat teman-temannya bertanya apa rahasianya, ia hanya tersenyum dan berkata, "Ini seperti scatter hitam di Mahjong Ways. Munculnya lama, perjuangannya panjang, tapi ketika datang, semua terasa sepadan."
Awal Mula: Mimpi yang Tertunda
Pak Rudi bukan dosen dengan latar belakang riset yang mentereng. Lulusan S3 dari kampus lokal, beban mengajar 24 SKS per semester, dan hampir tidak punya mentor yang membimbing. Publikasi internasional selalu terasa seperti mimpi di siang bolong—terlihat, tapi sulit diraih. Ia mulai menulis artikel pertamanya di tahun 2018. Topiknya sederhana, tentang model pembelajaran di kelas yang ia terapkan. Ia kirim ke jurnal Q2. Tiga bulan kemudian, reject datang dengan komentar singkat: "Not suitable for this journal." Ia tidak menyerah. Revisi, kirim lagi, reject lagi. Enam kali berturut-turut, selama satu tahun, hasilnya selalu sama: tidak diterima.
Fase Panjang: Putaran-Putaran yang Seolah Kosong
Dalam bahasa Mahjong Ways, Pak Rudi sedang mengalami fase panjang tanpa scatter. Ia terus memutar—menulis, merevisi, mengirim—tapi hasilnya kosong. Kadang review datang dengan komentar pedas, kadang langsung ditolak editor tanpa review, kadang juga diam berbulan-bulan lalu tiba-tiba reject. Di fase ini, banyak temannya yang menyarankan untuk menyerah saja. "Luangkan waktumu untuk mengajar, sudah," kata seorang kolega. Tapi Pak Rudi punya keyakinan aneh: bahwa di balik semua putaran kosong ini, suatu saat scatter akan datang. Ia tidak tahu kapan, tapi ia yakin.
Belajar Membaca Pola dari Setiap Reject
Salah satu kebiasaan Pak Rudi yang membuatnya berbeda adalah ia tidak pernah membuang email reject. Ia kumpulkan, baca ulang, dan catat pola komentarnya. Dari 12 reject, ia mulai melihat benang merah: reviewer sering mempertanyakan metodologi, dan editor sering menyebut kurangnya kontribusi teoretis. Ia lalu mengambil kursus online tentang metodologi penelitian, membaca puluhan artikel sejenis, dan secara radikal mengubah pendekatannya. Artikel yang tadinya kaku, mulai mengalir. Argumen yang tadinya dangkal, mulai tajam. Ia tidak sekadar "memutar", ia belajar dari setiap putaran kosong.
Titik Terendah: Hampir Menyerah
Pandemi datang, beban mengajar daring menjadi dua kali lipat. Pak Rudi hampir menyerah. Ia ingat suatu malam, jam 2 dini hari, ia menatap artikel yang sudah direvisi berkali-kali. Ia hampir menghapus semua file dan memutuskan untuk berhenti. Tapi di momen itu, ia membuka YouTube dan tanpa sengaja melihat video tentang Mahjong Ways. Ada yang bilang, "Scatter hitam itu muncul setelah ribuan putaran, dan ketika muncul, semua putaran kosong terlupakan." Kalimat itu seperti tamparan. Ia sadar: scatter hitamnya belum datang karena ia belum cukup sabar.
Scatter Hitam Itu Datang, Tapi Bukan dalam Bentuk yang Diduga
Setelah revisi ke-7 untuk artikel yang sama, ia memutuskan mengirim ke jurnal Q1—target tertinggi yang pernah ia incar. Bukan karena merasa sudah layak, tapi karena ia berpikir, "Mungkin selama ini aku terlalu takut." Tiga bulan berlalu. Tidak ada kabar. Ia sudah pasrah. Lalu suatu pagi, notifikasi email masuk. Subject: "Decision on your manuscript." Jari tangannya gemetar saat membuka. "We are pleased to inform you..." Ia tidak percaya. Scatter hitamnya akhirnya datang. Bukan dalam bentuk uang atau hadiah, tapi dalam bentuk dua kata yang selama ini ia dambakan: accepted.
Multiplier yang Datang Bertubi-tubi
Setelah artikel pertamanya terbit, sesuatu yang aneh terjadi. Dua artikel lain yang sebelumnya ia simpan di laci, tiba-tiba diterima di jurnal yang berbeda. Mungkin karena CV-nya kini lebih kredibel, atau mungkin karena reviewer melihat track record-nya. Ia mendapat undangan sebagai reviewer di jurnal yang sama, dan bahkan diminta menulis buku berdasarkan risetnya. Seperti di Mahjong Ways, setelah scatter hitam muncul, multiplier datang bertubi-tubi. Ia tidak menyangka, dan ia hanya bisa bersyukur.
Pelajaran untuk Generasi Berikutnya
Kini Pak Rudi rutin menjadi mentor bagi dosen muda di kampusnya. Ia selalu bercerita tentang scatter hitam dan perjalanan panjangnya. "Jangan bandingkan awalmu dengan orang lain," katanya. "Karena setiap orang punya ritme scatter masing-masing. Ada yang dapat scatter merah di putaran pertama, ada yang harus menunggu ribuan putaran untuk scatter hitam. Yang penting, jangan berhenti memutar selama kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan." Ia tidak pernah berkhotbah, hanya berbagi pengalaman. Dan pengalaman itu, bagi banyak dosen muda, lebih berharga dari sekadar teori.
Tanya Jawab Ringan
Apakah ada jaminan bahwa setelah sekian kali reject pasti akan accepted?
Tidak ada jaminan dalam hal ini. Tapi probabilitasnya meningkat jika kita terus belajar dari setiap reject dan memperbaiki kualitas tulisan. Yang pasti, jika berhenti, probabilitasnya nol.
Berapa kali idealnya merevisi artikel sebelum dikirim ulang?
Tergantung masukan dari reviewer. Jika komentarnya substansial, luangkan waktu untuk benar-benar memperdalam. Jika hanya minor, perbaiki seperlunya. Yang penting jangan terburu-buru mengirim ulang tanpa perbaikan berarti.
Bagaimana cara tetap termotivasi saat fase panjang tanpa kabar baik?
Cari komunitas yang mendukung, rayakan kemenangan kecil (misalnya revisi selesai, atau berhasil merespon komentar sulit), dan ingatkan diri sendiri bahwa ini adalah maraton, bukan sprint.
Pada akhirnya, kisah Pak Rudi mengajarkan kita bahwa scatter hitam bukan soal keberuntungan semata. Ia adalah akumulasi dari ribuan putaran yang tidak terlihat, dari malam-malam panjang tanpa tidur, dari reject yang bertumpuk di folder email, dan dari keyakinan bahwa suatu saat semua usaha akan menemukan jalannya. Dalam dunia publikasi, seperti di Mahjong Ways, scatter hitam tidak pernah datang kepada mereka yang hanya menunggu. Ia datang kepada mereka yang terus memutar, terus belajar, dan terus percaya bahwa di balik semua fase kosong, ada sesuatu yang sedang dipersiapkan untuk tiba di waktu yang tepat.